BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Manusia memiliki beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi pembentukan akhlaknya. Bila menilik pada masyarakat di sekitarnya, tentu ada bermacam-macam faktor
yang mempengaruhi akhlak mereka, baik berupa Nativisme, Empirisme, maupun
Konvergensi yang nantinya akan mengakibatkan seseorang memiliki akhlak yang
baik atau justru sebaliknya. Jika dia memiliki akhlak yang buruk, maka tidak
heran bila nanti akan timbul berbagai macam penyakit hati dalam dirinya. Oleh
karena itu, dalam penulisan laporan kali ini, Penulis akan memaparkan hasil
observasi yang dilakukan di lingkungan sekitar.
B. Rumusan
Masalah
Beberapa permasalahan yang akan dibahas adalah
:
1. Apa
faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak di lingkungan sekitar?
2. Apa
jenis penyakit hati yang ada di lingkungan sekitar?
3. Bagaimana
contoh keseimbangan
antara akhlak yang baik dan akhlak yang
buruk?
C. Tujuan
Observasi
Laporan ini disusun selain untuk
memenuhi salah satu tugas,
juga bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan baru bagi
Penulis dan Pembaca mengenai
faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak, penyakit-penyakit hati,
serta contoh keseimbangan
antara akhlak yang baik dan akhlak yang
buruk yang ada di lingkungan sekitarnya.
D. Manfaat
Observasi
1. Mahasiswa
memperoleh pengalaman baru
dengan adanya kegiatan observasi.
2. Penulis dan Pembaca
memperoleh ilmu pengetahuan dan wawasan yang bermanfaat.
3. Penulis
dan Pembaca memperoleh informasi yang dibutuhkan terkait objek observasi.
BAB II
LOKASI DAN WAKTU
OBSERVASI
A. Lokasi
Observasi
Dalam observasi
ini, Penulis mengambil lokasi di sekitar kediaman Penulis, yaitu di Desa
Rombasan, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep dan di Sekolah Tinggi Agama
Islam Negeri (STAIN) Pamekasan.
B. Pelaksanaan
Observasi
Penulis telah melaksanakan observasi
sebanyak tiga
kali dengan hari dan tanggal yang berbeda. Waktu yang digunakan yaitu :
1. Jum’at, 06 Oktober 2017.
Observasi tentang faktor Nativisme,
Empirisme, dan Konvergensi di Desa Rombasan.
2. Sabtu, 07 Oktober 2017.
Observasi tentang keseimbangan akhlak
yang baik dan akhlak yang buruk di STAIN Pamekasan, serta penyakit hati di Desa
Rombasan.
3. Ahad, 08 Oktober 2017. Observasi tentang contoh-contoh
keseimbangan akhlak yang baik dan akhlak yang buruk di Desa Rombasan.
C. Subjek
Observasi
Subjek observasi yang Penulis pilih
sebagai Narasumber adalah salah satu
orang tua anak dan juga
salah satu dari pihak yang bersangkutan.
D. Variabel
Observasi
Variabel observasi yang menjadi titik
utama adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak, penyakit hati,
serta keseimbangan antara akhlak
yang baik dan akhlak yang buruk di lingkungan sekitar.
E. Teknik
Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data yang diambil adalah mengidentifikasi,
menganalisis, serta berdialog
atau bertanya jawab dengan salah satu orang
tua anak dan juga dengan salah
satu pihak yang bersangkutan.
BAB
III
DATA HASIL
OBSERVASI
A. Faktor
yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak.
1.
Nativisme : Anak
seorang pemilik toko.
Nativisme
berasal dari kata natus yang berarti lahir. Nativis artinya
pembawaan. Intinya, manusia sejak lahir telah membawa suatu kekuatan yang
disebut potensi (dasar). Sehingga perkembangan individu semata-semata
dimungkinkan dan ditentukan oleh dasar keturunan.
Kali ini,
Penulis akan mengobservasi salah satu teman semasa Madrasah Aliyah. Sebut saja
Eva. Kedua orang tuanya sudah lama merintis usaha dengan mendirikan sebuah
toko. Berawal dari usaha kecil-kecilan dengan mendirikan toko yang hanya
menjual beberapa jenis produk, kini usaha mereka sudah semakin sukses. Hal ini
dibuktikan dengan bertambahnya berbagai jenis produk yang mereka jual sekarang.
Karena hal
itulah Eva pernah berkata bahwa dia ingin menjadi seorang pengusaha, meneruskan
apa yang sudah kedua orang tuanya rintis. Saat ini, Eva melanjutkan studinya di
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan dan mengambil Program Studi
Ekonomi Syari’ah.
2. Empirisme
: Murid Raudhatul Athfal (RA).
Empirisme
adalah aliran yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman
manusia. Salah satunya adalah dengan adanya pendidikan. Seorang anak telah
dididik sejak usia dini dalam bertingkah laku. Pendidikan itu biasa didapat
dari lingkungan keluarga terutama kedua orang tua dan dari lingkungan sekolah.
Sama halnya
seperti Hamdi dan teman-temannya. Murid Raudhatul Athfal (RA) yang satu ini
begitu antusias mengikuti pembelajaran di sekolah. Selain dari kedua orang
tuanya, Hamdi juga memperoleh ilmu pengetahuan terutama perihal agama dari
guru-gurunya.
Di RA
Al-Ghazali Rombasan, Hamdi dan teman-temannya diajari tentang
pengetahuan-pengetahuan agama seperti gerakan-gerakan shalat, menulis dan
membaca huruf hijaiyah, menghafalkan beberapa asmaul husna dan artinya,
mengenal sepuluh malaikat Allah yang wajib diketahui, mengenal rukun iman dan
rukun islam, serta menghafalkan surat-surat pendek dan do’a-do’a. Hal ini
membuktikan bahwa pendidikan memang berpengaruh dalam pembentukan akhlak
seseorang.
3. Konvergensi
: Seorang bayi.
Konvergensi
berasal dari kata konvergen, artinya bersifat menuju satu titik
pertemuan. Dalam hal ini, perkembangan individu baik secara dasar (bakat,
keturunan) maupun dari lingkungan, keduanya sama-sama memerankan peranan yang
penting. Artinya, faktor eksternal seperti pendidikan memang dapat mempengaruhi
akhlak. Namun, faktor internal yang berasal dari dalam diri seseorang juga
memiliki peranan yang sama.
Namanya adalah
Sisil. Bayi yang menginjak usia satu tahun ini telah belajar berceloteh
meskipun hanya sepatah atau dua patah kata yang tidak begitu jelas. Sisil
menirukan suara-suara yang berasal dari ibunya dan orang-orang yang berada di
sekelilingnya. Dia mendengarkannya kemudian menirukan apa yang diucapkan
kepadanya. Ini menandakan bahwa dorongan dan bakat itu telah ada pada dirinya. Dan
hal tersebut tidak akan berkembang jika tidak ada bantuan dari luar yang
merangsangnya. Artinya, jika tidak dibantu dengan suara-suara yang didengarnya,
maka tidak mungkin bila Sisil dapat berceloteh seperti itu.
Jadi, pada
dasarnya seorang bayi memang sudah memiliki kemampuan atau potensi dalam
dirinya. Tinggal bagaimana orang tua sebagai sosok terdekat untuk bisa menjaga pola
berbicara yang baik serta tingkah laku yang baik pula baginya.
B. Penyakit Hati : Seorang
tetangga yang memiliki sifat ujub.
Ujub adalah
bangga terhadap diri sendiri. Dalam kitab Sullam At-Taufiq disebutkan bahwa
ujub adalah merasakan adanya kelebihan pada dirinya tanpa memandang siapa yang
memberikan kelebihan tersebut. Padahal sudah jelas jika Allah SWT. yang telah
menganugerahkan kelebihan itu. Ujub dapat menimbulkan sifat takabbur atau
sombong. Takabbur adalah menolak perkara yang benar, menghina sesama manusia,
dan menganggap bahwa dirinya lebih baik daripada semua makhluk Allah.
Sebut saja UM.
Tetangga yang satu ini merupakan adik kelas Penulis sejak masih duduk di bangku
Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Memang benar jika secara akademis, dia
patut diacungi jempol karena kepandaiannya. Selain itu, dia juga mahir mengoperasikan
alat-alat elektronik seperti komputer bila dibandingkan dengan teman-teman
sebayanya. Namun demikian, baik para siswa maupun guru juga mengetahui bahwa
dia memiliki sifat ujub dan sombong. Mungkin hal itu disebabkan karena dia
merasa bahwa ilmu pengetahuannya lebih luas bila dibandingkan dengan siswa yang
lain. Dan pernah suatu ketika, Kepala Madrasah kami memanggil dan
menasehatinya. Akan tetapi, dia membantah beliau seolah-olah dialah yang paling
benar.
Apalagi kedua
orang tua UM ini sangat memanjakannya karena dia merupakan anak semata wayang
mereka. Apapun yang diinginkannya pasti akan dipenuhi. Padahal mereka tidak
termasuk orang-orang yang perekonomiannya di atas rata-rata. Bahkan, terkadang
kedua orang tuanya masih bingung untuk mencari pinjaman. UM dan kedua orang
tuanya juga dikenal berperilaku konsumtif dan agak boros. Barang-barang yang
mereka beli merupakan kebutuhan tersier seperti sepeda motor, perhiasan,
laptop, dan telepon seluler (ponsel). Na’udzubillah, semoga kita semua
terhindar dari sifat-sifat tersebut.
C.
Akhlak yang Baik dan Akhlak yang Buruk.
1.
Kikir/bakhil, namun suka merawat tumbuhan dan pekerja
keras.
AS adalah
tetangga yang kikir/bakhil. Dia tidak akan mau meminjamkan apa yang dia miliki
kepada tetangganya yang membutuhkan. Namun, sisi positifnya adalah AS mempunyai
hobi mengoleksi tanaman terutama berbagai jenis tanaman hias. Dia senang
merawat tanaman-tanaman itu. Ditambah lagi, AS adalah pribadi yang giat
bekerja.
2.
Sering membuang sampah sembarangan, namun sosoknya ramah
dan baik hati.
Namanya ZJ,
dia sering membuang sampah sembarangan di area kampus. Sebenarnya, ZJ bersikap
acuh tak acuh terhadap lingkungan di sekitarnya. Namun demikian, dia adalah
sosok teman yang ramah dan baik hati terhadap sesamanya.
3.
Pernah mencuri, namun suka menolong sesama.
Hajjah HU pernah
dipergoki oleh salah satu warga ketika mencuri sesuatu (barang-barang yang
nilainya tidak terlalu besar) untuk dijual kembali di tokonya. Namun, warga
cukup segan menghakiminya karena dia adalah seorang Hajjah dan suka menolong
tetangganya yang membutuhkan.
BAB IV
ANALISA
Penulis hanya
akan menganalisa tentang penyakit hati dan keseimbangan akhlak yang baik dan
akhlak yang buruk, yaitu :
A. Penyakit Hati.
Seperti yang
sudah disebutkan sebelumnya bahwa UM memiliki sifat ujub karena kepandaiannya.
Seharusnya dia tahu bahwa kelebihan yang telah diberikan kepadanya merupakan
pemberian Allah SWT. semata. Manusia perlu mengingat bahwa segala sesuatu yang
telah dititipkan kepadanya suatu saat nanti pasti akan diambil kembali oleh
Allah SWT., dan kita tidak akan tahu kapan hal itu terjadi. Maka dari itu, berpandai-pandailah
bersyukur karena Allah SWT. akan melimpahkan nikmat-Nya bila kita banyak bersyukur
kepada-Nya. Allah SWT. berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7 :
Artinya : Dan (ingatlah
juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S. Ibrahim/14 : 7).
B. Akhlak yang Baik
dan Akhlak yang Buruk.
Sebenarnya,
akhlak yang baik dan buruk pasti ada dalam diri manusia. Jadi, sisi buruk itu
harus ditimbun dengan sisi baik yang ada pada dirinya, jangan sampai malah
sebaliknya. Oleh karena itu, perbanyaklah berakhlak mahmudah daripada berakhlak
madzmumah.
1.
Allah SWT. melarang makhluk-Nya berlaku kikir/bakhil. Dan
jangan pernah enggan untuk memberikan harta kepada orang lain yang membutuhkan walaupun
hanya sedikit. Allah SWT. berfirman dalam Surah Al-Israa’ ayat 29 :
Artinya : Dan janganlah kamu
jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu
mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (Q.S. Al-Israa’/17
: 29).
Namun demikian, sifat yang patut ditiru dari AS adalah rasa sukanya dalam
merawat tanaman. Sesuai dengan tugas manusia di muka bumi ini sebagai khalifah
yang harus menjaga dan melestarikan alam yang telah Allah SWT. ciptakan.
2. Meskipun salah satu
teman kita memiliki sifat acuh tak acuh terhadap lingkungan, jangan sampai kita
meniru hal tersebut. Ambillah sisi positif darinya, jangan ambil sisi
negatifnya. Karena membuang sampah sembarangan adalah sebagian dari perilaku
merusak alam. Allah SWT. berfirman dalam Surah Al-A’raaf ayat 56 :
Artinya : Dan
janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya
dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan
dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang
berbuat baik. (Q.S. Al-A’raaf/7 : 56).
3.
Mencuri adalah salah satu dosa besar. Jadi, manusia harus
memiliki kesadaran diri bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatannya. Jangan
sampai kita terjerumus untuk melakukan hal tersebut. Allah SWT. berfirman dalam
Surah Al-Maidah ayat 38 :
Artinya : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang
mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka
kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana. (Q.S. Al-Maidah/5 : 38).
BAB
V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari kegiatan
observasi ini dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
pembentukan akhlak, penyakit hati, dan keseimbangan antara akhlak yang baik dan
akhlak yang buruk memang ada dalam diri manusia. Bahkan, banyak tersebar di
sekitar kita. Baik berupa faktor Nativisme, faktor Empirisme, faktor Konvergensi,
ujub, kikir/bakhil, suka merawat tanaman, ataupun pekerja keras. Semuanya sudah
jelas terpatri di hadapan kita.
B. Saran
Saran dari
Penulis adalah jika kita jeli dan mampu memahami berbagai macam tabiat manusia
yang ada di sekitar kita, maka kita akan mengetahui serta dapat membedakan yang
mana akhlak yang harus ditiru dan yang mana akhlak yang tidak patut ditiru.
Karena sejatinya Allah SWT. dapat melihat apa yang kita kerjakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar