Minggu, 10 Desember 2017

OBSERVASI PENDIDIKAN AKHLAK TASAWUF by Ina



BAB I
PENDAHULUAN

           A.    Latar Belakang

Manusia memiliki beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan akhlaknya. Bila menilik pada masyarakat di sekitarnya, tentu ada bermacam-macam faktor yang mempengaruhi akhlak mereka, baik berupa Nativisme, Empirisme, maupun Konvergensi yang nantinya akan mengakibatkan seseorang memiliki akhlak yang baik atau justru sebaliknya. Jika dia memiliki akhlak yang buruk, maka tidak heran bila nanti akan timbul berbagai macam penyakit hati dalam dirinya. Oleh karena itu, dalam penulisan laporan kali ini, Penulis akan memaparkan hasil observasi yang dilakukan di lingkungan sekitar.

           B.     Rumusan Masalah

Beberapa permasalahan yang akan dibahas adalah :
1.      Apa faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak di lingkungan sekitar?
2.      Apa jenis penyakit hati yang ada di lingkungan sekitar?
3.      Bagaimana contoh keseimbangan antara akhlak yang baik dan akhlak yang buruk?

           C.     Tujuan Observasi

Laporan ini disusun selain untuk memenuhi salah satu tugas, juga bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan baru bagi Penulis dan Pembaca mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak, penyakit-penyakit hati, serta contoh keseimbangan antara akhlak yang baik dan akhlak yang buruk yang ada di lingkungan sekitarnya.

           D.    Manfaat Observasi

1.      Mahasiswa memperoleh pengalaman baru dengan adanya kegiatan observasi.
2.      Penulis dan Pembaca memperoleh ilmu pengetahuan dan wawasan yang bermanfaat.
3.      Penulis dan Pembaca memperoleh informasi yang dibutuhkan terkait objek observasi.


  
BAB II
LOKASI DAN WAKTU OBSERVASI

           A.    Lokasi Observasi

Dalam observasi ini, Penulis mengambil lokasi di sekitar kediaman Penulis, yaitu di Desa Rombasan, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep dan di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan.

           B.     Pelaksanaan Observasi

Penulis telah melaksanakan observasi sebanyak tiga kali dengan hari dan tanggal yang berbeda. Waktu yang digunakan yaitu :
1.   Jum’at, 06 Oktober 2017. Observasi tentang faktor Nativisme, Empirisme, dan Konvergensi di Desa Rombasan.
2.   Sabtu, 07 Oktober 2017. Observasi tentang keseimbangan akhlak yang baik dan akhlak yang buruk di STAIN Pamekasan, serta penyakit hati di Desa Rombasan.
3.   Ahad, 08 Oktober 2017. Observasi tentang contoh-contoh keseimbangan akhlak yang baik dan akhlak yang buruk di Desa Rombasan.

           C.     Subjek Observasi

Subjek observasi yang Penulis pilih sebagai Narasumber adalah  salah satu orang tua anak dan juga salah satu dari pihak yang bersangkutan.

           D.    Variabel Observasi

Variabel observasi yang menjadi titik utama adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak, penyakit hati, serta keseimbangan antara akhlak yang baik dan akhlak yang buruk di lingkungan sekitar.

           E.     Teknik Pengumpulan Data 

                            Instrumen pengumpulan data yang diambil adalah mengidentifikasi, menganalisis, serta berdialog atau bertanya jawab dengan salah satu orang tua anak dan juga dengan salah satu pihak yang bersangkutan.



BAB III
DATA HASIL OBSERVASI

A.  Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak.

1.      Nativisme : Anak seorang pemilik toko.
Nativisme berasal dari kata natus yang berarti lahir. Nativis artinya pembawaan. Intinya, manusia sejak lahir telah membawa suatu kekuatan yang disebut potensi (dasar). Sehingga perkembangan individu semata-semata dimungkinkan dan ditentukan oleh dasar keturunan.
Kali ini, Penulis akan mengobservasi salah satu teman semasa Madrasah Aliyah. Sebut saja Eva. Kedua orang tuanya sudah lama merintis usaha dengan mendirikan sebuah toko. Berawal dari usaha kecil-kecilan dengan mendirikan toko yang hanya menjual beberapa jenis produk, kini usaha mereka sudah semakin sukses. Hal ini dibuktikan dengan bertambahnya berbagai jenis produk yang mereka jual sekarang.
Karena hal itulah Eva pernah berkata bahwa dia ingin menjadi seorang pengusaha, meneruskan apa yang sudah kedua orang tuanya rintis. Saat ini, Eva melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan dan mengambil Program Studi Ekonomi Syari’ah.
2.      Empirisme : Murid Raudhatul Athfal (RA).
Empirisme adalah aliran yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Salah satunya adalah dengan adanya pendidikan. Seorang anak telah dididik sejak usia dini dalam bertingkah laku. Pendidikan itu biasa didapat dari lingkungan keluarga terutama kedua orang tua dan dari lingkungan sekolah.
Sama halnya seperti Hamdi dan teman-temannya. Murid Raudhatul Athfal (RA) yang satu ini begitu antusias mengikuti pembelajaran di sekolah. Selain dari kedua orang tuanya, Hamdi juga memperoleh ilmu pengetahuan terutama perihal agama dari guru-gurunya.
Di RA Al-Ghazali Rombasan, Hamdi dan teman-temannya diajari tentang pengetahuan-pengetahuan agama seperti gerakan-gerakan shalat, menulis dan membaca huruf hijaiyah, menghafalkan beberapa asmaul husna dan artinya, mengenal sepuluh malaikat Allah yang wajib diketahui, mengenal rukun iman dan rukun islam, serta menghafalkan surat-surat pendek dan do’a-do’a. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan memang berpengaruh dalam pembentukan akhlak seseorang.
3.      Konvergensi : Seorang bayi.
Konvergensi berasal dari kata konvergen, artinya bersifat menuju satu titik pertemuan. Dalam hal ini, perkembangan individu baik secara dasar (bakat, keturunan) maupun dari lingkungan, keduanya sama-sama memerankan peranan yang penting. Artinya, faktor eksternal seperti pendidikan memang dapat mempengaruhi akhlak. Namun, faktor internal yang berasal dari dalam diri seseorang juga memiliki peranan yang sama.
Namanya adalah Sisil. Bayi yang menginjak usia satu tahun ini telah belajar berceloteh meskipun hanya sepatah atau dua patah kata yang tidak begitu jelas. Sisil menirukan suara-suara yang berasal dari ibunya dan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Dia mendengarkannya kemudian menirukan apa yang diucapkan kepadanya. Ini menandakan bahwa dorongan dan bakat itu telah ada pada dirinya. Dan hal tersebut tidak akan berkembang jika tidak ada bantuan dari luar yang merangsangnya. Artinya, jika tidak dibantu dengan suara-suara yang didengarnya, maka tidak mungkin bila Sisil dapat berceloteh seperti itu.
Jadi, pada dasarnya seorang bayi memang sudah memiliki kemampuan atau potensi dalam dirinya. Tinggal bagaimana orang tua sebagai sosok terdekat untuk bisa menjaga pola berbicara yang baik serta tingkah laku yang baik pula baginya.

B.  Penyakit Hati : Seorang tetangga yang memiliki sifat ujub.

Ujub adalah bangga terhadap diri sendiri. Dalam kitab Sullam At-Taufiq disebutkan bahwa ujub adalah merasakan adanya kelebihan pada dirinya tanpa memandang siapa yang memberikan kelebihan tersebut. Padahal sudah jelas jika Allah SWT. yang telah menganugerahkan kelebihan itu. Ujub dapat menimbulkan sifat takabbur atau sombong. Takabbur adalah menolak perkara yang benar, menghina sesama manusia, dan menganggap bahwa dirinya lebih baik daripada semua makhluk Allah.
Sebut saja UM. Tetangga yang satu ini merupakan adik kelas Penulis sejak masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Memang benar jika secara akademis, dia patut diacungi jempol karena kepandaiannya. Selain itu, dia juga mahir mengoperasikan alat-alat elektronik seperti komputer bila dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Namun demikian, baik para siswa maupun guru juga mengetahui bahwa dia memiliki sifat ujub dan sombong. Mungkin hal itu disebabkan karena dia merasa bahwa ilmu pengetahuannya lebih luas bila dibandingkan dengan siswa yang lain. Dan pernah suatu ketika, Kepala Madrasah kami memanggil dan menasehatinya. Akan tetapi, dia membantah beliau seolah-olah dialah yang paling benar.
Apalagi kedua orang tua UM ini sangat memanjakannya karena dia merupakan anak semata wayang mereka. Apapun yang diinginkannya pasti akan dipenuhi. Padahal mereka tidak termasuk orang-orang yang perekonomiannya di atas rata-rata. Bahkan, terkadang kedua orang tuanya masih bingung untuk mencari pinjaman. UM dan kedua orang tuanya juga dikenal berperilaku konsumtif dan agak boros. Barang-barang yang mereka beli merupakan kebutuhan tersier seperti sepeda motor, perhiasan, laptop, dan telepon seluler (ponsel). Na’udzubillah, semoga kita semua terhindar dari sifat-sifat tersebut.

           C.     Akhlak yang Baik dan Akhlak yang Buruk.

1.      Kikir/bakhil, namun suka merawat tumbuhan dan pekerja keras.
AS adalah tetangga yang kikir/bakhil. Dia tidak akan mau meminjamkan apa yang dia miliki kepada tetangganya yang membutuhkan. Namun, sisi positifnya adalah AS mempunyai hobi mengoleksi tanaman terutama berbagai jenis tanaman hias. Dia senang merawat tanaman-tanaman itu. Ditambah lagi, AS adalah pribadi yang giat bekerja.
2.      Sering membuang sampah sembarangan, namun sosoknya ramah dan baik hati.
Namanya ZJ, dia sering membuang sampah sembarangan di area kampus. Sebenarnya, ZJ bersikap acuh tak acuh terhadap lingkungan di sekitarnya. Namun demikian, dia adalah sosok teman yang ramah dan baik hati terhadap sesamanya.
3.      Pernah mencuri, namun suka menolong sesama.
Hajjah HU pernah dipergoki oleh salah satu warga ketika mencuri sesuatu (barang-barang yang nilainya tidak terlalu besar) untuk dijual kembali di tokonya. Namun, warga cukup segan menghakiminya karena dia adalah seorang Hajjah dan suka menolong tetangganya yang membutuhkan.



BAB IV
ANALISA

Penulis hanya akan menganalisa tentang penyakit hati dan keseimbangan akhlak yang baik dan akhlak yang buruk, yaitu  :

A.  Penyakit Hati.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa UM memiliki sifat ujub karena kepandaiannya. Seharusnya dia tahu bahwa kelebihan yang telah diberikan kepadanya merupakan pemberian Allah SWT. semata. Manusia perlu mengingat bahwa segala sesuatu yang telah dititipkan kepadanya suatu saat nanti pasti akan diambil kembali oleh Allah SWT., dan kita tidak akan tahu kapan hal itu terjadi. Maka dari itu, berpandai-pandailah bersyukur karena Allah SWT. akan melimpahkan nikmat-Nya bila kita banyak bersyukur kepada-Nya. Allah SWT. berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7 :

Artinya :        Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S. Ibrahim/14 : 7).

B.  Akhlak yang Baik dan Akhlak yang Buruk.

Sebenarnya, akhlak yang baik dan buruk pasti ada dalam diri manusia. Jadi, sisi buruk itu harus ditimbun dengan sisi baik yang ada pada dirinya, jangan sampai malah sebaliknya. Oleh karena itu, perbanyaklah berakhlak mahmudah daripada berakhlak madzmumah.
1.      Allah SWT. melarang makhluk-Nya berlaku kikir/bakhil. Dan jangan pernah enggan untuk memberikan harta kepada orang lain yang membutuhkan walaupun hanya sedikit. Allah SWT. berfirman dalam Surah Al-Israa’ ayat 29 : 
 
Artinya :  Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (Q.S. Al-Israa’/17 : 29).
Namun demikian, sifat yang patut ditiru dari AS adalah rasa sukanya dalam merawat tanaman. Sesuai dengan tugas manusia di muka bumi ini sebagai khalifah yang harus menjaga dan melestarikan alam yang telah Allah SWT. ciptakan.
2.      Meskipun salah satu teman kita memiliki sifat acuh tak acuh terhadap lingkungan, jangan sampai kita meniru hal tersebut. Ambillah sisi positif darinya, jangan ambil sisi negatifnya. Karena membuang sampah sembarangan adalah sebagian dari perilaku merusak alam. Allah SWT. berfirman dalam Surah Al-A’raaf ayat 56 :
 
Artinya : Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-A’raaf/7 : 56).
3.      Mencuri adalah salah satu dosa besar. Jadi, manusia harus memiliki kesadaran diri bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatannya. Jangan sampai kita terjerumus untuk melakukan hal tersebut. Allah SWT. berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 38 :
  
Artinya : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al-Maidah/5 : 38).






BAB V
PENUTUP

           A.    Kesimpulan

Dari kegiatan observasi ini dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak, penyakit hati, dan keseimbangan antara akhlak yang baik dan akhlak yang buruk memang ada dalam diri manusia. Bahkan, banyak tersebar di sekitar kita. Baik berupa faktor Nativisme, faktor Empirisme, faktor Konvergensi, ujub, kikir/bakhil, suka merawat tanaman, ataupun pekerja keras. Semuanya sudah jelas terpatri di hadapan kita. 

           B.     Saran

Saran dari Penulis adalah jika kita jeli dan mampu memahami berbagai macam tabiat manusia yang ada di sekitar kita, maka kita akan mengetahui serta dapat membedakan yang mana akhlak yang harus ditiru dan yang mana akhlak yang tidak patut ditiru. Karena sejatinya Allah SWT. dapat melihat apa yang kita kerjakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar