Gamelan Madura
Madura memiliki beraneka ragam kekayaan
budaya. Salah satunya ialah gamelan. Gamelan merupakan ensembel musik yang
biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong[1].
Bertempat di kediaman bapak Elliyanto,
di desa Rombasan kecamatan Pragaan kabupaten Sumenep, kebudayaan ini masih ada
dan berkembang. Ditengah merosotnya antusiasme masyarakat terhadap
kebudayaan setempat, beliau tetap kukuh
mempertahankan dan melestarikan budaya tersebut. Tentu hal ini patut dicontoh
dan diapresiasi agar kita dapat memupuk rasa cinta yang besar terhadap berbagai
macam budaya warisan Nusantara.
Gamelan Madura
adalah pungutan dari gamelan Jawa, dan
merupakan karya ciptaan bangsawan keraton yang memiliki hubungan kekerabatan
dengan bangsawan Jawa. Hubungan keraton Sumenep (dan juga keraton Bangkalan)
dengan keraton Solo (terutama zaman Mataram) sangat memungkinkan masuknya jenis
kesenian sepeti :
gamelan, tembang macapatan, wayang topeng, bahkan hingga tayuban. Namun,
ketika keraton “kosong” (kaum bangsawan menyingkir ke desa-desa akibat politik islamisasi
yang mengakibatkan runtuhnya pengaruh bangsawan di mata rakyat), maka kesenian
itu justru lebih berkembang di desa-desa meskipun telah mengalami berbagai
transformasi[2].
Para niyaga
gamelan Sumenep menilai kualitas gamelan Jawa adalah yang terbaik, akan tetapi dianggap tidak tahan terhadap variasi suhu
kelembapan udara malam (peka terhadap suhu).
Oleh karena itu, meraka lebih
memilih gamelan berbahan logam campuran yang lebih stabil stemnya terhadap
suhu. Karena pada umumnya mereka tampil secara outdoor sepanjang malam dan dalam cuaca berangin[3].
[1] HsfBot, “Gamelan”, Wikipedia, diakses dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gamelan,
pada tanggal 3 Desember 2017 pukul 11.10.
[2] Zoelkarnain Mistortoify, “Budaya Musik Daerah Etnis Madura”,
Wordpress, diakses dari https://etnomusikologisolo.wordpress.com/2010/04/06/budaya-musik-daerah-etnis-madura/,
pada tanggal 3 Desember 2017 pukul 05.33.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar