Madura kaya akan
beraneka ragam budaya, baik berupa bangunan bersejarah maupun adat-istiadat
secara turun-temurun. Salah satu yang menjadi ciri khasnya ialah bahasa Madura
sendiri. Bahasa Madura merupakan bahasa ibu sekaligus bahasa komunikasi antar-masyarakat
di pulau Madura.
Berbicara mengenai
bahasa, maka tidak asing lagi jika terkadang masyarakat Madura menyisipkan
sebuah peribahasa dalam bertutur kata. Mereka menyebutnya dengan Parebhasan
Madhura (Peribahasa Madura). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dicantumkan
bahwa peribahasa adalah ungkapan atau kalimat ringkas, padat, berisi
perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku.
Salah satu Parebhasan
Madhura yang lazim kita dengar adalah ajam sapatarangan ta’ pada buluna,
dalam bahasa Indonesia berarti ayam yang berasal dari satu sarang (induk) tidak
memiliki bulu yang sama. Lantas apa makna yang terkandung di dalamnya?.
Menurut masyarakat
setempat, peribahasa tersebut ditujukan kepada orang-orang yang meskipun pada kenyataannya
memiliki hubungan darah (saudara), namun bukan berarti mereka juga memiliki
watak atau perilaku yang sama. Misalnya seperti seseorang yang ramah, rendah
hati, dan berakhlak terpuji tidak menjamin bahwa saudaranya juga memiliki sifat
yang demikian, bahkan mungkin sebaliknya.
Peribahasa ini sering
digunakan oleh orang tua untuk menasihati anaknya. Tujuannya adalah agar anak
tersebut dapat memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk dari
berbagai tingkah laku antar-orang yang bersaudara, serta mengarahkan mereka
untuk senantiasa melakukan kebajikan demi menjunjung harkat dan martabatnya
sebagai manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar