Minggu, 10 Desember 2017

IAD/IBD by Ina


  Parebhasan Madhura : Ajam Sapatarangan Ta’ Pada Buluna
 
            Madura kaya akan beraneka ragam budaya, baik berupa bangunan bersejarah maupun adat-istiadat secara turun-temurun. Salah satu yang menjadi ciri khasnya ialah bahasa Madura sendiri. Bahasa Madura merupakan bahasa ibu sekaligus bahasa komunikasi antar-masyarakat di pulau Madura.
            Berbicara mengenai bahasa, maka tidak asing lagi jika terkadang masyarakat Madura menyisipkan sebuah peribahasa dalam bertutur kata. Mereka menyebutnya dengan Parebhasan Madhura (Peribahasa Madura). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dicantumkan bahwa peribahasa adalah ungkapan atau kalimat ringkas, padat, berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku.
            Salah satu Parebhasan Madhura yang lazim kita dengar adalah ajam sapatarangan ta’ pada buluna, dalam bahasa Indonesia berarti ayam yang berasal dari satu sarang (induk) tidak memiliki bulu yang sama. Lantas apa makna yang terkandung di dalamnya?.
            Menurut masyarakat setempat, peribahasa tersebut ditujukan kepada orang-orang yang meskipun pada kenyataannya memiliki hubungan darah (saudara), namun bukan berarti mereka juga memiliki watak atau perilaku yang sama. Misalnya seperti seseorang yang ramah, rendah hati, dan berakhlak terpuji tidak menjamin bahwa saudaranya juga memiliki sifat yang demikian, bahkan mungkin sebaliknya.
            Peribahasa ini sering digunakan oleh orang tua untuk menasihati anaknya. Tujuannya adalah agar anak tersebut dapat memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk dari berbagai tingkah laku antar-orang yang bersaudara, serta mengarahkan mereka untuk senantiasa melakukan kebajikan demi menjunjung harkat dan martabatnya sebagai manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar